PELAIHARI, INFO_PAS — Upaya mendorong kemandirian pangan sekaligus membekali warga binaan dengan keterampilan produktif terus dilakukan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Pelaihari. Salah satunya melalui program pertanian di Kebun Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE), yang kembali menunjukkan hasil melalui panen timun sebanyak 26 kilogram, Selasa (18/8/2026).
Panen dilakukan oleh Petugas Pembinaan Pertanian Rutan Pelaihari, M. Ridho, bersama seorang warga binaan, Putra, di area Kebun SAE Rutan Pelaihari. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses pembinaan kemandirian yang memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk terlibat langsung dalam kegiatan pertanian, mulai dari perawatan tanaman hingga pemanenan.
Di balik 26 kilogram timun yang dipetik, terdapat proses pembinaan yang menekankan pentingnya ketekunan, kedisiplinan, serta keterampilan praktis. Warga binaan tidak hanya diarahkan untuk mengisi waktu dengan kegiatan positif, tetapi juga diberikan pengalaman yang dapat menjadi bekal ketika nantinya kembali ke tengah masyarakat.
M. Ridho mengatakan kegiatan pertanian di Kebun SAE dilakukan secara berkelanjutan Sesuai dengan arahan pimpinan, program ketahanan pangan saat ini menjadi salah satu program unggulan Rutan Pelaihari. Melalui pemanfaatan lahan yang tersedia di area SAE, kegiatan pertanian terus dikembangkan sebagai sarana pembinaan sekaligus upaya menghasilkan produk pangan secara mandiri.
“Panen ini menjadi hasil dari proses perawatan yang dilakukan secara rutin. Yang terpenting bukan hanya hasil panennya, tetapi bagaimana warga binaan mendapatkan pengalaman dan keterampilan dalam mengelola tanaman secara langsung,” ujarnya.
Bagi Putra, keterlibatan dalam kegiatan pertanian memberikan pengalaman baru dalam menjalani proses pembinaan. Aktivitas di kebun mengajarkannya bahwa hasil yang baik membutuhkan ketekunan dan perawatan yang dilakukan secara konsisten.
“Senang bisa ikut merawat tanaman sampai akhirnya bisa dipanen. Dari kegiatan ini saya belajar untuk lebih sabar, disiplin, dan bertanggung jawab. Semoga keterampilan seperti ini nantinya bisa saya manfaatkan setelah kembali ke masyarakat,” ujar Putra.
Program pertanian tersebut sejalan dengan salah satu program aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Tahun 2026, yakni mendorong kemandirian pangan melalui program pertanian, perikanan, dan peternakan di Lapas dan Rutan dengan memanfaatkan lahan-lahan yang tersedia.
Bagi Rutan Pelaihari, hasil panen menjadi gambaran bahwa lahan pembinaan dapat dimanfaatkan secara produktif sekaligus menjadi ruang belajar bagi warga binaan. Setiap proses yang dijalani di kebun diharapkan mampu membangun kebiasaan kerja, rasa tanggung jawab, dan keterampilan yang memiliki manfaat setelah mereka menyelesaikan masa pidana.
Dari kebun sederhana di area SAE Rutan Pelaihari, 26 kilogram timun menjadi lebih dari sekadar hasil pertanian. Panen tersebut menjadi bagian dari perjalanan pembinaan—bahwa keterampilan, kedisiplinan, dan kerja nyata dapat ditanam, dirawat, dan pada waktunya menghasilkan manfaat.
Melalui keberlanjutan program pertanian, Rutan Pelaihari terus berupaya menjadikan kegiatan pembinaan sebagai sarana mempersiapkan warga binaan agar memiliki kemampuan produktif dan lebih siap menjalani kehidupan secara mandiri setelah kembali ke masyarakat. Pendekatan ini sejalan dengan pedoman komunikasi Humas yang menekankan narasi berbasis proses, manfaat nyata, serta cerita manusiawi yang tetap bersumber dari pengalaman nyata.






