Bukan Sekadar Litmas, PK Bapas Palu Temukan Semangat Perubahan Dua Anak Binaan di LPKA

PALU — Proses pembinaan anak yang berhadapan dengan hukum tidak berhenti pada pelaksanaan pidana belaka. Lebih dari itu, pembinaan merupakan perjalanan penting untuk membentuk pribadi yang lebih baik serta mempersiapkan anak kembali ke tengah keluarga dan masyarakat.

 

Semangat perubahan tersebut terpancar jelas saat Pembimbing Kemasyarakatan (PK) Bapas Kelas I Palu, Julandi J. Juni, melaksanakan penelitian kemasyarakatan (Litmas) pembinaan awal terhadap dua Anak Didik Pemasyarakatan (Andikpas) di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Palu, Senin (21/09/2026).

 

Kedua Anak Binaan tersebut menjalani pembinaan atas kasus yang berbeda, yakni tindak pidana narkotika dan pengeroyokan. Meski berangkat dari latar belakang perkara berbeda, keduanya sama-sama menunjukkan antusiasme luar biasa dalam mengikuti setiap program pembinaan, khususnya pembinaan kepribadian yang diselenggarakan oleh LPKA Palu.

 

Salah satu hal paling berkesan dalam pelaksanaan Litmas tersebut adalah perkembangan spiritual kedua Anak Binaan. Pembinaan keagamaan yang intensif di LPKA Palu terbukti membuahkan hasil positif.

 

Salah satu Anak Binaan dilaporkan telah berhasil khatam membaca Al-Qur’an sebanyak satu kali dan kini tengah melanjutkan bacaannya kembali. Sementara itu, Andikpas lainnya dengan penuh semangat dan percaya diri berinisiatif menunjukkan langsung kemampuan membaca Al-Qur’an yang ia pelajari selama menjalani masa pembinaan kepada PK Bapas.

 

Interaksi positif ini menjadi gambaran nyata bahwa pembinaan di LPKA tak sekadar pemenuhan rutinitas program, melainkan ruang aman bagi anak untuk membangun kebiasaan positif, menumbuhkan kepercayaan diri, serta memantik kesadaran diri untuk berubah.

 

Dalam wawancara mendalam saat Litmas, kedua Andikpas mengekspresikan keinginan kuat untuk memperbaiki masa depan mereka. Menariknya, keduanya mengungkapkan bahwa keterlibatan dalam tindak pidana di masa lalu dipicu oleh dorongan emosional untuk membela keluarga.

 

Informasi ini menjadi catatan penting bagi Pembimbing Kemasyarakatan dalam memahami aspek latar belakang sosial, karakter, psikologis, hingga kebutuhan pembinaan anak secara komprehensif.

 

PK Bapas Kelas I Palu, Julandi J. Juni, menyampaikan bahwa Litmas pembinaan awal sangat krusial untuk memetakan kondisi anak.

 

“Hasil Litmas ini menjadi dasar kami dalam menyusun rekomendasi pembinaan yang tepat, presisi, dan sesuai dengan karakter serta potensi perkembangan masing-masing Andikpas,” jelas Julandi.

 

Menanggapi proses tersebut, Kepala Bapas Kelas I Palu, M. Nur Amin, S.H., M.H., menegaskan pentingnya peran PK Bapas dalam mendampingi dan memastikan anak mendapatkan penanganan yang berorientasi pada masa depan.

 

“Anak yang menjalani proses pemasyarakatan tetap memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Pembinaan harus menjadi ruang bagi mereka untuk belajar, membangun karakter, dan mempersiapkan diri kembali kepada keluarga dan masyarakat,” tegas M. Nur Amin.

 

Dukungan penuh juga disampaikan oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sulawesi Tengah, Herman Mulawarman. Beliau menekankan pentingnya sinergi lintas pihak dalam mendampingi anak-anak pemasyarakatan.

 

“Pembinaan terhadap anak harus menjadi proses yang mampu menumbuhkan kesadaran, membangun karakter, dan memberikan ruang bagi mereka untuk memperbaiki diri. Setiap anak memiliki potensi untuk berubah dan memiliki masa depan yang harus kita jaga bersama,” ujar Herman Mulawarman.

 

Ia menambahkan bahwa peran LPKA, Bapas, keluarga, dan masyarakat harus saling menopang. “Sinergi antara LPKA, Bapas, keluarga, dan seluruh pihak terkait sangat penting agar proses pembinaan tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan pidana, tetapi juga pada kesiapan anak untuk kembali ke keluarga dan diterima dengan baik di tengah masyarakat,” lanjut Herman.

 

Antusiasme dan perkembangan positif kedua Andikpas ini menjadi bukti bahwa di balik proses hukum yang berjalan, selalu ada harapan dan semangat untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Bagi Bapas Kelas I Palu, potensi perubahan inilah yang menjadi modal utama dalam menyusun langkah pendampingan yang humanis dan berkeadilan bagi anak.

 

HUMAS BAPAS PALU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *