Bertahan di Tengah Kemarau, Blok Wanita Rutan Pelaihari Panen 17 Ikat Sawi

PELAIHARI, INFO_PAS — Ketekunan warga binaan Blok Wanita Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Pelaihari dalam mengelola tanaman pangan kembali membuahkan hasil. Sebanyak 17 ikat sawi berhasil dipanen di **Area Blok Wanita Rutan Kelas IIB Pelaihari, Sabtu (5/9/2026), sebagai bagian dari upaya mengoptimalkan lahan sekaligus mendukung pembinaan kemandirian warga binaan.

 

Tanaman sawi tersebut bukan muncul begitu saja. Sejak awal, warga binaan Blok Wanita terlibat langsung dalam proses penanaman dan perawatan. Mereka merawat tanaman secara bertahap hingga memasuki masa panen, sehingga hasil yang diperoleh menjadi gambaran dari proses pembinaan yang dilakukan secara konsisten.

 

Di tengah keterbatasan akibat kondisi kemarau, proses budidaya menjadi tantangan tersendiri. Kondisi lahan yang lebih kering membuat perawatan tanaman membutuhkan perhatian dan ketelatenan lebih. Warga binaan tetap berupaya menjaga tanaman agar dapat tumbuh dengan baik hingga menghasilkan sawi yang layak dipanen.

 

Situasi tersebut justru memberikan pengalaman nyata bagi warga binaan bahwa kegiatan pertanian tidak hanya membutuhkan keterampilan, tetapi juga kesabaran, kedisiplinan, dan kemampuan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan. Setiap tanaman yang berhasil dipanen menjadi hasil dari proses perawatan yang dilakukan secara berkelanjutan.

 

Kasubsi Pelayanan Tahanan Rutan Pelaihari, Galang Tresno Prakoso, mengatakan kegiatan pertanian memberikan ruang bagi warga binaan untuk belajar bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang mereka lakukan.

 

“Yang kami lihat bukan hanya jumlah hasil panennya, tetapi bagaimana prosesnya. Tanaman ini ditanam dan dirawat oleh warga binaan sendiri, termasuk ketika menghadapi kondisi kemarau. Dari situ mereka belajar bahwa untuk mendapatkan hasil diperlukan ketekunan, tanggung jawab, dan konsistensi,” ujarnya.

 

Petugas Penjaga Blok Wanita, Risa Gayatri, turut menyampaikan bahwa keterlibatan warga binaan sejak tahap penanaman membuat mereka memiliki rasa tanggung jawab terhadap tanaman yang dirawat.

 

“Sejak awal tanaman ini ditanam oleh warga binaan Blok Wanita. Mereka yang mengikuti perkembangannya sampai panen. Kondisi kemarau memang menjadi salah satu tantangan dalam perawatan, tetapi mereka tetap berusaha menjaga tanaman agar bisa tumbuh dan menghasilkan,” katanya.

 

Sebanyak 17 ikat sawi yang dipanen selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan pangan di lingkungan Rutan. Hasil tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pemanfaatan lahan di area Blok Wanita dapat diarahkan menjadi kegiatan produktif yang memberikan manfaat langsung.

 

Lebih dari sekadar menghasilkan sayuran, kegiatan ini menjadi bagian dari proses pembinaan kemandirian. Warga binaan mendapatkan pengalaman mulai dari menyiapkan tanaman, melakukan perawatan, menghadapi tantangan dalam proses budidaya, hingga menikmati hasil dari pekerjaan yang mereka lakukan sendiri.

 

Pemanfaatan lahan untuk kegiatan pertanian ini juga sejalan dengan Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Tahun 2026 mengenai **kemandirian pangan melalui program pertanian, perikanan, dan peternakan di Lapas dan Rutan dengan memanfaatkan lahan-lahan tidur (idle).

 

Panen 17 ikat sawi tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan kondisi lingkungan tidak menghalangi upaya untuk menjadikan lahan Rutan lebih produktif. Dari proses sederhana menanam dan merawat, warga binaan Blok Wanita belajar menghasilkan sesuatu yang bermanfaat sekaligus membangun keterampilan yang dapat menjadi bekal untuk kembali beraktivitas secara mandiri di tengah masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *