Dari Bibit Sawi, Warga Binaan Rutan Pelaihari Belajar tentang Proses dan Ketekunan

PELAIHARI, INFO_PAS — Sebuah bedeng tanah di Kebun Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Pelaihari kembali dipenuhi aktivitas. Senin (31/8/2026), tangan warga binaan mulai menata bibit sawi di atas lahan yang telah disiapkan. Sederhana, tetapi dari pekerjaan itu ada proses panjang yang baru saja dimulai.

 

Petugas Pembinaan Pertanian M. Ridho bersama warga binaan Amin melakukan penanaman sawi dengan menyiapkan lahan dan menempatkan bibit pada titik tanam secara teratur. Pekerjaan dilakukan secara langsung di kebun, sehingga setiap tahapan dapat dipelajari melalui praktik.

 

Menanam sawi bukan pekerjaan yang selesai ketika bibit sudah berada di tanah. Setelahnya, tanaman membutuhkan perhatian dan perawatan agar dapat berkembang. Di situlah kegiatan pertanian menjadi ruang belajar yang tidak hanya berbicara tentang cara bercocok tanam, tetapi juga tentang proses dan konsistensi.

 

Bagi Amin, pengalaman tersebut memberikan pemahaman bahwa hasil tidak datang dalam waktu singkat.

 

“Dari menanam ini saya belajar harus sabar. Bibit yang kita tanam hari ini belum langsung menghasilkan, jadi harus dirawat dan diperhatikan sampai tumbuh,” ujar Amin.

 

M. Ridho mengatakan keterlibatan warga binaan dalam kegiatan pertanian menjadi kesempatan untuk mengenal pekerjaan secara langsung dari tahap awal.

 

“Setiap tanaman memiliki proses. Warga binaan kami libatkan sejak menyiapkan lahan sampai penanaman agar mereka memahami bahwa hasil yang baik membutuhkan ketelitian dan perawatan yang berkelanjutan,” katanya.

 

Di Kebun SAE, tanah menjadi media belajar yang berbeda. Tidak ada hasil yang dapat diperoleh secara instan. Bibit yang hari ini ditanam harus melewati tahapan pertumbuhan sebelum memberikan hasil. Proses tersebut sekaligus memberikan pengalaman kerja yang konkret bagi warga binaan.

 

Penanaman sawi juga memperlihatkan bagaimana lahan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan yang produktif. Aktivitas pertanian diarahkan untuk memberikan ruang bagi warga binaan dalam mengembangkan keterampilan melalui pekerjaan nyata.

 

Bagi Rutan Pelaihari, proses seperti ini menjadi bagian dari pembinaan kemandirian. Sebab, yang dikejar bukan hanya tanaman yang tumbuh, tetapi juga pengalaman yang dapat menjadi bekal keterampilan.

 

Hari ini sawi baru ditanam. Belum ada hasil yang bisa dipetik. Namun, dari tanah yang baru saja disentuh bibit, sebuah proses telah dimulai—proses merawat, menunggu, dan bertanggung jawab hingga tiba waktunya memanen.

 

Pemanfaatan lahan untuk pertanian tersebut sejalan dengan Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Tahun 2026 yang mendorong kemandirian pangan melalui program pertanian di Lapas dan Rutan dengan memanfaatkan lahan yang tersedia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *