PELAIHARI, INFO_PAS — Pemanfaatan lahan produktif di Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Pelaihari kembali membuahkan hasil. Sebanyak 22 kilogram gambas berhasil dipanen dari Kebun Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Rutan Pelaihari, Kamis (10/9/2026).
Panen tersebut merupakan bagian dari program pembinaan kemandirian di bidang pertanian yang melibatkan warga binaan secara langsung. Kegiatan ini tidak hanya menghasilkan komoditas pertanian, tetapi juga menjadi sarana bagi warga binaan untuk memperoleh pengalaman dan keterampilan yang dapat menjadi bekal saat kembali ke tengah masyarakat.
Petugas Pembinaan Pertanian Rutan Pelaihari M. Ridho bersama warga binaan Salam turut melakukan proses pemanenan gambas yang telah dibudidayakan di Kebun SAE. Setelah dikumpulkan dan ditimbang, hasil panen mencapai 22 kilogram.
M. Ridho mengatakan, kegiatan pertanian di Kebun SAE diarahkan tidak sekadar mengejar hasil panen, tetapi juga memberikan pengalaman kerja nyata kepada warga binaan.
> “Panen gambas ini menjadi bagian dari proses pembinaan kemandirian yang kami lakukan secara berkelanjutan. Warga binaan kami libatkan mulai dari perawatan tanaman sampai dengan panen, sehingga mereka mendapatkan pengalaman dan keterampilan pertanian secara langsung,” ujar Ridho.
Menurutnya, hasil panen yang diperoleh menjadi penyemangat untuk terus mengembangkan pengelolaan lahan produktif di Rutan Pelaihari. Setiap hasil yang diperoleh menjadi bagian dari evaluasi untuk meningkatkan kualitas dan keberlanjutan program pertanian.
Bagi Salam, keterlibatannya dalam proses budidaya hingga panen memberikan pengalaman tersendiri. Ia mengaku senang dapat melihat hasil dari tanaman yang selama ini dirawat bersama.
> “Saya senang bisa ikut merawat tanaman sampai akhirnya bisa dipanen. Dari kegiatan ini saya belajar bagaimana merawat gambas dengan baik dan memahami bahwa untuk mendapatkan hasil kita harus tekun dan sabar,” kata Salam.
Pemanfaatan Kebun SAE Rutan Pelaihari sejalan dengan arah penguatan tugas dan fungsi pemasyarakatan yang mendorong kemandirian pangan melalui program pertanian, perikanan, dan peternakan dengan memanfaatkan lahan-lahan tidur (idle). Program pertanian di Lapas dan Rutan juga disesuaikan dengan kondisi masing-masing satuan kerja.
Lebih dari sekadar menghasilkan 22 kilogram gambas, kegiatan tersebut menunjukkan proses pembinaan yang memberikan ruang bagi warga binaan untuk belajar, bekerja, dan menghasilkan sesuatu yang bernilai.
Pengelolaan lahan produktif juga diarahkan agar hasil pembinaan dapat memberikan manfaat nyata dan mendukung ketahanan pangan pemasyarakatan. Dalam pedoman penguatan pemasyarakatan, hasil panen warga binaan ditempatkan sebagai bagian dari upaya menghadirkan pangan berkualitas serta memperkuat peran aktif pemasyarakatan dalam ketahanan pangan.
Melalui kegiatan pertanian yang dilakukan secara konsisten, Rutan Pelaihari terus mendorong pembinaan yang berorientasi pada keterampilan dan kemandirian. Dari lahan SAE, hasil panen bukan hanya berupa sayuran, tetapi juga menjadi bagian dari proses menyiapkan warga binaan agar lebih produktif dan siap kembali ke masyarakat.






